Campbell melalui (Fejes-Vékássy, Ujhelyi Adrienn, & Faragó, 2020) mengungkapkan bahwa relasi romantis yang baik merupakan salah satu komponen penting dalam hidup individu. Artinya, individu tentunya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya lewat online dating. Pada dasarnya, menurut teori Roda Cinta Reiss (Anderson, 2016), cinta berkembang melalui 4 proses yang saling berhubungan satu sama lain. Dimana prosesnya terdiri atas adanya ketertarikan, membuka diri, saling ketergantungan, serta bertumbuhnya cinta. Hal ini juga berlaku apabila individu melakukan dating online. Biasanya individu mulai tertarik dengan individu yang membuat diri mereka tertarik seperti foto profilnya terlihat menarik, profil dirinya juga terlihat menarik, merasa memiliki kesamaan walaupun yang dinilai masih sebatas profil diri secara umum. Lalu, ketika individu sudah memiliki ketertarikan, individu akan cenderung memulai membangun interaksi dengan orang yang ditemui lewat situs dating online tersebut. Mereka bisa saling bercerita tentang keseharian, kesukaan, hobi. Percakapan pun akan semakin dalam sehingga pada akhirnya tumbuh saling ketergantungan pada dua individu tersebut. Tiap individu pun berusaha untuk memenuhi ekspektasi dari masing-masing pasangannya sehingga perlahan cinta bisa tumbuh pada kedua orang tersebut. Walaupun dijelaskan secara mudah, tetapi proses ini merupakan proses yang panjang dan bukanlah proses instan. Proses individu dalam melakukan dating tentunya akan berbeda-beda, terlebih yang dilakukan adalah online dating dimana individu pada awalnya tidak bertemu secara langsung dengan calon pasangannya. Tidak terburu-buru merupakan hal yang tepat dilakukan karena menurut Rosen (melalui Howe, 2012) lewat adanya teknologi maupun aplikasi dating online, orang-orang akan lebih mudah berkomunikasi serta terbuka (melakukan full self disclosure) terhadap pemikiran dan perasaannya secara mendalam. Self disclosure tentunya tidak sepenuhnya baik, sudah seharusnya dalam melakukannya diseimbangkan pada value lain yang dimiliki masing-masing (Olson, 2019). Self disclosure yang terlalu tinggi di awal pertemuan pada dating online bisa menyebabkan beberapa hal terjadi seperti rawannya tindak kejahatan, kasus penipuan, scam, dan lain sebagainya. Sekali lagi, online dating bukanlah sesuatu yang salah, tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah ini semua dilakukan lewat online atau dunia maya. Adanya teknologi ini bisa membuat para pengguna internet menciptakan persona yang baik menurut dirinya sendiri (Howe, 2012). Menurut Clark (melalui Howe, 2012) hal ini bisa menyebabkan pengguna membuat personanya sendiri dengan melakukan manipulasi pada foto maupun pada kata-kata saat memulai chatting sehingga tidak sesuai dengan dirinya. Tetapi, self disclosure tetapi penting untuk dilakukan sebagai langkah awal mengenal satu sama lain. Selain itu, dengan adanya self disclosure ini juga meminimalisir akan adanya faker atau orang-orang yang beridentitas palsu. Saat ini, banyak juga orang yang menggunakan aplikasi online dating dengan tidak mencantumkan nama aslinya, foto asli orang tersebut, dan malah menggunakan profil dari orang lain yang tentunya ini akan merugikan banyak pihak. Tidak memungkiri beberapa orang dalam melakukan online dating akan mendapat penolakan dari orang lain karena sebanyak 85% dari orang-orang yang melakukan pencarian pasangan di internet cenderung tidak mendekati dan mengajak berinteraksi orang yang tidak mengunggah foto satu pun (Conkle, 2010). Perlu diingat bahwa tidak semua orang yang menggunakan mobile app dating seperti Tinder dan yang lainnya memiliki motivasi untuk mencari pasangan. Sehingga, sebagai pengguna mobile app dating, individu harus bisa mengatur dan memanajemen ekspektasi terhadap dating online ini. Beberapa dari mereka pun terkadang menggunakan Tinder hanya untuk mencari teman baru atau teman mengobrol. Selain itu, perlunya menurunkan ekspektasi karena beberapa hal juga akan sulit diidentifikasi secara langsung seperti chemistry dan daya tarik fisik (Lamanna, 2018). Pada teori stimulus, nilai, dan peran dalam pemilihan pasangan , daya tarik fisik menjadi salah satu stimulus atau alasan mengapa individu bisa tertarik dengan keberadaan individu lain. Sedangkan apabila ini dilakukan secara online, tentunya daya tarik fisik tidak akan tampak seutuhnya. Individu harus berhati-hati apabila seseorang yang sudah dikenal hanya lewat dunia maya mengajak bertemu secara langsung. Lebih baik, dalam menemuinya tidak dalam kondisi seorang diri melainkan ditemani dengan orang terdekat dari individu tersebut agar bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Perlu diperhatikan juga apabila ada saat melakukan konvensional dating atau bahkan online dating, individu bisa saja mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan. Molidor (melalui, Howe 2012) berpendapat bahwa remaja dan perempuan dewasa awal terutama yang sedang berkuliah sering menjadi korban kekerasan maupun pelecehan seksual oleh pasangannya. Sehingga, apabila di awal pertemuan maupun masa-masa awal berkenalan, tetapi calon pasangan sudah menunjukan red flags adanya kekerasan atau pemaksaan, hal ini harus segera disudahi sebelum hubungan ini nantinya dibawa ke jenjang yang lebih serius seperti pernikahan. Hal ini perlu diperhatikan mengingat, individu seringkali bertemu dan melakukan dating bersama seseorang bahkan hingga menikah tetapi pada akhirnya harus bercerai karena menyadari bahwa pasangan bukanlah orang yang baik (Olson, 2019). Jadi, melindungi dan mengantisipasi diri sebelum hal-hal yang kurang diinginkan terjadi merupakan langkah tepat yang bisa dilakukan. Karena, sebuah perubahan dalam diri pasangan dapat berubah apabila individu tersebut yang menginginkan perubahan, bukan dipaksa oleh orang lain/pasangannya. Individu hanya bisa mengubah perspektif dan dirinya sendiri saja (Lamanna, 2018). Jadi, sebaiknya hal-hal seperti ini menjadi sebuah perhatian apabila akan melakukan online dating.